Generasi Seru? Generasi milenium? Bukan, kita generasi minder!
“Berikan aku 1000 orang tua dan akan ku cabut semeru dari akarnya, namun
berikan aku 10 pemuda, akan ku guncangkan dunia.”
-Ir. Soekarno
Pemuda, tombak
Negara. Bahkan dalam kutipan pidato Bpk. Ir. Soekarno terlihat jelas bagaimana
pengharapannya terhadap pemuda. Bagaimana pemuda sebenarnya memiliki potensi
untuk membangun Negara dan bahkan mengubah dunia. Golongan pemuda selalu
menjadi penentu Negara ini. Konsep dari
pemuda Indonesia sesungguhnya dapat dilihat pada tanggal 28 Oktober 1928. Apa
pemuda masih ada yang mengingat peristiwa apa yang terjadi pada tanggal
tersebut? Jika lupa, buka kembali buku sejarah kalian.
Sumpah Pemuda, perjuangan
awal yang menjadi landasan kemerdekaan Indonesia. Sebuah ikrar diri dari para
pemuda pemudi Indonesia dari berbagai daerah. Bersatunya seluruh pemuda tanah
air demi menegaskan berdirinya Indonesia. Jika dilihat, 14 tahun setelah sumpah
pemuda dilaksanakan, Indonesia merdeka. Golongan muda yang dulunya menghibahkan
dirinya untuk Indonesia, menjadi golongan yang berada dipusat pemerintahan.
Lalu? Bagaimana dengan kalian? Sepertinya generasi
kita lebih baik bukan? Mengisi kemerdekaan dengan postingan ngak ngik ngok,
pacaran, dan berbagai kebahagiaan palsu dunia fantasi ‘disney world’ di akun
sosial kalian. Sindiran kah ini? Tentu saja. Terutama untuk si penulis.
Daripada generasi seru atau generasi milenium, lebih
cocok generasi sekarang disebut generasi minder. Kolonialisme berhasil menjajah
pendahulu kita, dan berhasil membudayakan minder sampai sekarang. Persepsi kita
selalu ada dibawah Negara asing berlaku disemua hal. Contohnya sekarang pemuda
banyak yang kagum dengan sesuatu yang berasal dari bangsa luar ketimbang
sesuatu dari Negeri sendiri. Jika alasannya karena kualitas mereka diatas, itu
artinya kalian hanya bisa sebatas menikmati, bukan melakukan pergerakan untuk
menjadi lebih baik. Jika tidak tahu caranya berproduksi, sepertinya lebih baik
menjadi budak. Mirisnya, tak hanya produk, bahkan jika menggunakan bahasa
asing, kita merasa lebih keren. Apakah dengan begitu kita keren? Tidak! Lebih tepat kalau kita tidak
mempunyai kepribadian. Lebih ekstrem lagi ketika seorang pemuda mengatakan
“coba kita dijajah sama inggris, pasti maju” sebuah konsep berpikir budak yang
sampai sekarang tidak cocok merdeka.
Coba buka lagi buku sejarah kalian, dimana kekuasaan
Majapahit yang bisa menguasai beberapa Negara. Kebudayaan Indonesia lebih
banyak dicintai masyarakat asing. Ketika Ir. Soekarno memilih keluar dari PBB
karena tidak becus mengurus persatuan bangsa-bangsa dan hanya mengusrus
kepentingan Negara berkuasa. Tak hanya keluar dari PBB, Indonesia semakin kuat
dengan membuat tandingan PBB, yaitu Konferensi Kekuatan Baru (Conference of New
Emerging Force) yang disambut baik dengan
dukungan banyak negara khusunya Afrika, Asia, Amerika Selatan, bahkan
ada sebagian Negara Eropa yang mendukung.
Harapan saya dari tulisan ini hanya sampai pada para
pemuda atau siapapun yang membaca. Sudah saatnya Indonesia berhenti minder.
Sejarah kita lebih keren dengan kepribadian yang mencintai negeri ini.
Indonesia bangsa mandiri yang berani mengatakan “kami Negara non-blok”.
Indonesia tidak memihak, Indonesia Negara mandiri, Indonesia berdiri sendiri.
Jika pemegang kekuasaan kini tengah bobrok. Lupakan itu semua. Andaikan benar
mereka hanya budak asing yang hanya bisa mengemis. Lupakan mereka. Mereka bukan
Indonesia. Karena sejatinya kita Negara yang mandiri, tak suka mengemis pada
asing. Sekarang fokuslah dengan apa yang dapat kalian kerjakan. Kita kuat
bersama. Menjadi Indonesia yang sesungguhnya. Diakhir tulisan ini, saya
tuliskan ikrar Sumpah Pemuda. Setelah membacanya, coba rasakan kita merupa
pemuda Indonesia yang bersatu.
Sumpah
Pemuda
Kami
putra dan puteri Indonesia, mengaku bertumpah darah satu, tanah air Indonesia
Kami
putra dan puteri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia
Kami
putra dan puteri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia
0 komentar:
Posting Komentar