Sabtu, 11 Maret 2017

Generasi Minder

Generasi Seru? Generasi milenium? Bukan, kita generasi minder!

“Berikan aku 1000 orang tua dan akan ku cabut semeru dari akarnya, namun berikan aku 10 pemuda, akan ku guncangkan dunia.”
-Ir. Soekarno
                Pemuda, tombak Negara. Bahkan dalam kutipan pidato Bpk. Ir. Soekarno terlihat jelas bagaimana pengharapannya terhadap pemuda. Bagaimana pemuda sebenarnya memiliki potensi untuk membangun Negara dan bahkan mengubah dunia. Golongan pemuda selalu menjadi penentu Negara ini.  Konsep dari pemuda Indonesia sesungguhnya dapat dilihat pada tanggal 28 Oktober 1928. Apa pemuda masih ada yang mengingat peristiwa apa yang terjadi pada tanggal tersebut? Jika lupa, buka kembali buku sejarah kalian.
                Sumpah Pemuda, perjuangan awal yang menjadi landasan kemerdekaan Indonesia. Sebuah ikrar diri dari para pemuda pemudi Indonesia dari berbagai daerah. Bersatunya seluruh pemuda tanah air demi menegaskan berdirinya Indonesia. Jika dilihat, 14 tahun setelah sumpah pemuda dilaksanakan, Indonesia merdeka. Golongan muda yang dulunya menghibahkan dirinya untuk Indonesia, menjadi golongan yang berada dipusat pemerintahan.
Lalu? Bagaimana dengan kalian? Sepertinya generasi kita lebih baik bukan? Mengisi kemerdekaan dengan postingan ngak ngik ngok, pacaran, dan berbagai kebahagiaan palsu dunia fantasi ‘disney world’ di akun sosial kalian. Sindiran kah ini? Tentu saja. Terutama untuk si penulis.
Daripada generasi seru atau generasi milenium, lebih cocok generasi sekarang disebut generasi minder. Kolonialisme berhasil menjajah pendahulu kita, dan berhasil membudayakan minder sampai sekarang. Persepsi kita selalu ada dibawah Negara asing berlaku disemua hal. Contohnya sekarang pemuda banyak yang kagum dengan sesuatu yang berasal dari bangsa luar ketimbang sesuatu dari Negeri sendiri. Jika alasannya karena kualitas mereka diatas, itu artinya kalian hanya bisa sebatas menikmati, bukan melakukan pergerakan untuk menjadi lebih baik. Jika tidak tahu caranya berproduksi, sepertinya lebih baik menjadi budak. Mirisnya, tak hanya produk, bahkan jika menggunakan bahasa asing, kita merasa lebih keren. Apakah dengan begitu kita  keren? Tidak! Lebih tepat kalau kita tidak mempunyai kepribadian. Lebih ekstrem lagi ketika seorang pemuda mengatakan “coba kita dijajah sama inggris, pasti maju” sebuah konsep berpikir budak yang sampai sekarang tidak cocok merdeka.
Coba buka lagi buku sejarah kalian, dimana kekuasaan Majapahit yang bisa menguasai beberapa Negara. Kebudayaan Indonesia lebih banyak dicintai masyarakat asing. Ketika Ir. Soekarno memilih keluar dari PBB karena tidak becus mengurus persatuan bangsa-bangsa dan hanya mengusrus kepentingan Negara berkuasa. Tak hanya keluar dari PBB, Indonesia semakin kuat dengan membuat tandingan PBB, yaitu Konferensi Kekuatan Baru (Conference of New Emerging Force) yang disambut baik dengan  dukungan banyak negara khusunya Afrika, Asia, Amerika Selatan, bahkan ada sebagian Negara Eropa yang mendukung.
Harapan saya dari tulisan ini hanya sampai pada para pemuda atau siapapun yang membaca. Sudah saatnya Indonesia berhenti minder. Sejarah kita lebih keren dengan kepribadian yang mencintai negeri ini. Indonesia bangsa mandiri yang berani mengatakan “kami Negara non-blok”. Indonesia tidak memihak, Indonesia Negara mandiri, Indonesia berdiri sendiri. Jika pemegang kekuasaan kini tengah bobrok. Lupakan itu semua. Andaikan benar mereka hanya budak asing yang hanya bisa mengemis. Lupakan mereka. Mereka bukan Indonesia. Karena sejatinya kita Negara yang mandiri, tak suka mengemis pada asing. Sekarang fokuslah dengan apa yang dapat kalian kerjakan. Kita kuat bersama. Menjadi Indonesia yang sesungguhnya. Diakhir tulisan ini, saya tuliskan ikrar Sumpah Pemuda. Setelah membacanya, coba rasakan kita merupa pemuda Indonesia yang bersatu.
Sumpah Pemuda
Kami putra dan puteri Indonesia, mengaku bertumpah darah satu, tanah air Indonesia
Kami putra dan puteri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia

Kami putra dan puteri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar